Refleksi Teologis atas Persekutuan dalam Kisah Para Rasul 4:23–31
DOI:
https://doi.org/10.51689/3rjpe986Abstrak
Kisah Para Rasul 4:23–31 menggambarkan persekutuan jemaat mula-mula yang hidup dalam kesatuan iman, doa, dan ketergantungan penuh kepada Allah di tengah ancaman dan penganiayaan. Perikop ini menampilkan model persekutuan yang berakar pada kuasa Roh Kudus dan berfungsi sebagai sumber kekuatan rohani bagi gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis persekutuan dalam Kisah Para Rasul 4:23–31 serta relevansinya bagi kehidupan gereja masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan teologis-biblis dengan analisis eksegetis terhadap teks Alkitab serta refleksi kontekstual terhadap praktik persekutuan gereja kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persekutuan jemaat mula-mula tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga spiritual, yang menekankan kesatuan dalam doa, ketaatan pada firman, dan keberanian dalam bersaksi. Spiritualitas persekutuan yang digambarkan Lukas menjadi teladan bagi gereja masa kini untuk membangun komunitas iman yang kokoh, solider, dan bergantung pada karya Roh Kudus. Dengan demikian, Kisah Para Rasul 4:23–31 memberikan refleksi teologis yang memperkaya pemahaman gereja tentang persekutuan sebagai sarana pertumbuhan rohani dan kesaksian iman di tengah dunia yang penuh tantangan.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Obadja N. Tambunan (Author)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





